Monday, May 2, 2016

SENI "JATHILAN" TARIAN YANG BERASAL DARI JAWA TENGAH

SENI "JATHILAN" TARIAN YANG 
BERASAL DARI JAWA TENGAH 


Jathilan adalah kesenian yang telah lama dikenal oleh masyarakat Yogyakarta dan juga sebagian Jawa Tengah. Jathilan juga dikenal dengan nama kuda lumping, kuda kepang, ataupun jaran kepang.     Tersemat kata “kuda” karena kesenian yang merupakan perpaduan antara seni tari dengan magis ini dimainkan dengan menggunakan properti berupa kuda-kudaan yang terbuat dari anyaman bambu (kepang).
Dilihat dari asal katanya, jathilan berasal dari kalimat berbahasa Jawa “jaranne jan thil-thilan tenan,” yang jika dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “kudanya benar-benar joget tak beraturan.”       Joget beraturan (thil-thilan) ini memang bisa dilihat pada kesenian jathulan utamanya ketika para penari telah kerasukan.
Dilihat dari asal katanya, jathilan berasal dari kalimat berbahasa Jawa “jaranne jan thil-thilan tenan,” yang jika dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “kudanya benar-benar joget tak beraturan.”       Joget beraturan (thil-thilan) ini memang bisa dilihat pada kesenian jathulan utamanya ketika para penari telah kerasukan.
  • Gerak Tari Jathilan
Pada mulanya penari nampak lemah gemulai dalam menggerakkan badan, namun seiring waktu berjalan, para penari menjadi kerasukan roh halus, dimana kondisi kerasukan ini dalam bahasa Jawa sering dikatakan istilah “ndadi” atau dalam bahasa Inggrisnya ‘trance’ .              Karena kerasukan, maka para penari jatilan hampir tidak sadar terhadap apa yang diperbuatnya.    Gerakan tariannyapun mulai tak teratur, pada kondisi inilah kata jathilan itu tergambar, jaranne jan thil-thilan tenan (kudanya benar-benar berjoget tak beraturan).


Keberadaan pawang
Dalam satu pertunjukan, kecuali para penari yang memiki jumlah tertentu tergantung cerita yang hendak disampaikan, maka ada instrumen pertunjukan lainnya, yaitu para penabuh gamelan, para perias, dan yang tak boleh ketinggalan adalah keberadaan “pawang,”    yaitu sosok yang memiliki peran serta tanggungjawab mengendalikan jalannya pertunjukan dan menyembuhkan para penari yang kerasukan.

Tatkala “ndadi” alias kerasukan, para penari jathilan mampu melakukan gerakan pun atraksi berbahaya yang tidak dapat dicerna oleh akal manusia, sebagai contoh adalah memakan dedaunan, menyantap kembang, bahkan juga mengunyah beling (pecahan kaca).           Adakalanya juga berperang menggunakan pedang dan lalu menyayat lengan, atraksi ini sejatinya bukan ajang pamer kedigdayaan melainkan sebagai gembaran bahwa nonmiliter juga memiliki kekuatan guna melawan pasukan Belanda.
Cerita dan penampilan Jatilan
Sesuai perkembangan jaman, sejatinya ada banyak cerita yang dikembangkan dan sering ditampilkan pada pertunjukan seni tari jathilan pun jaran kepang ini.    Jika di atas tadi ada gambaran cerita tentang Diponegoro, maka ada pula cerita tentang Panji Asmarabangun, yaitu putra dari kerajaan Jenggala Manik.        Tatkala yang disampaikan adalah cerita mengenai Panji Asmarabangun, maka penampilan para penaripun menggambarkan tokoh tersebut, baik aksesoris pun gerakannya.   Sebagai contoh aksesorisnya adalah mengenakan gelang tangan, gelang kaki, ikat pada lengan, kalung, menyengkelit keris, dan tentu saja mengenakan mahkota yang acap disebut “kupluk Panji.”
Kreasi Lama dan Kreasi Baru
Dewasa ini kesenian jathilan telah berkembang dan dikemas dengan sisi berbeda, hal ini dilakukan agar tetap memiliki daya tarik bagi generasi muda yang telah mengenal tradisi modern.     Ada dua pakem di tampilkan, yaitu pakem lama yang acap dinamakan sebagai “jathilan pung jrol”  dan pakem baru yang lebih dikenal dengan sebutan “jathilan kreasi baru.”
  • Jathilan Pungjrol
Pung jrol merupakan pakem jathilan lama yang juga dinamakan sebagai pakem ‘klasik.’      Ini merupakan jathilan yang telah lebih awal ada, yaitu sejak kemunculannya pertama kali.    Pungjrol merupakan jathilan yang sederhana, baik pada sisi penampilan ataupun sisi pengiring gamelannya.
Karena kesederhanaan tersebut, memang pada awalnya yang tercipta adalah bebunyian yang jika dilapalkan akan bersuara “kil kil kol kol kil kil jrol! kil kil kol kol kil kil jrol!,”    namun pada saat kondisi “ndadi” otomatis irama itu makin kencang, sehingga ayang kan lebih dominan terdengar adalah suara kenong serta gong.    Sementara gamelan lain lebih menjadi suara latar saja, maka yang terdengar adalah bunyi “pung jrol pung pung jrol pung dhel!”     Suara inilah yang pada akhirnya lebih akrab dan dikenal masyarakat sebagai nama jathilan “pung jrol.”
  • Jathilan kreasi baru
Perkembangan jaman menuntut untuk kita lebih kreatif, karenanya kreasi dan inovasi seolah diwajibkan apabila kita tetap bisa survive dalam melakukan gerakan.         Begitu pula pada pengembangan seni jathilan ini, agar tak begitu asing bagi anak-anak jaman sekarang yang telah menikmati jaman maju, maka dikembangkanlah jathilan dengan sentuhan kreasi baru.
Yang menjadi pembeda dari jatilan kreasi berbanding jathilan klasik adalah pada gamelan sebagai musik pengirim dan juga pada penampilan, baik pemain tambahan, pakaian ataupun aksesorisnya.      Sebagai contoh adalah  terdapatnya tambahan gamelan dengan drum ataupun alat musik lain yang menggabungkan antara pentatonis dengan diatonis. Sedangkan pada sisi penampilan, seni tari jathilan ‘kreasi baru’ adakalanya menampilkan peran “celeng” (babi), “munyuk” (monyet), dan beberapa penari topeng. Bahkan ada juga jathilan gedruk, yaitu jathilan yang beberapa penarinya mengenakan aksesoris klinthing di kakinya sehingga menimbulkan suara bergemerincing secara kompak.
Pelaku Seni Jathilan
Pelaku seni tari kuda lumping tak sebatas pada jenis kelamin laki-laki saja,melainkan ada pula perempuannya, keduanya tetap tak bisa lepas dari kejadian ‘ndadi’ a.k.a trance.          Ini memberikan pesan bahwa jathilan selain merupakan hiburan rakyat juga mampu menyertakan unsur ritual.  Contoh realnya adalah ketika seorang pawang jathilan melakukan suatu ritual yang intinya memohon ijin kepada Tuhan agar jalannya pertunjukan lancar, serta mengucapkan “permisi” kepada makhluk lain yang berada diseputaran tempat tersebut agar tidak menggangu jalannya pertunjukan.

SEJARAH JATILAN
Kesenian tari jathilan dahulu kala sering dipentaskan pada dusun-dusun kecil.  Pementasan ini memiliki dua tujuan, yang pertama yaitu sebagai sarana menghibur rakyat sekitar, dan yang kedua juga dimanfaatkan sebagai media guna membangkitkan semangat rakyat dalam melawan penjajah.
Ada beberapa cerita awal sejarah mengenai jatilan. Versi pertama menceritakan jatilan adalah kesenian yang mengisahkan perjuangan Raden Patah dibantu Sunan Kalijaga dalam melawan penjajahan Belanda. Sebagaimana yang kita ketahui, Sunan Kalijaga adalah sosok yang acap menggunakan budaya, tradisi dan kesenian sebagai sarana pendekatan kepada rakyat, maka cerita perjuangan dari Raden Patah itu digambarkan kedalam bentuk seni tari jathilan.
Versi terahkir adalah jatilan merupakan cerita  Panji Asmarabangun, yaitu putra dari kerajaan Jenggala Manik. Tatkala yang disampaikan adalah cerita mengenai Panji Asmarabangun, maka penampilan para penaripun menggambarkan tokoh tersebut, baik aksesoris pun gerakannya.   Sebagai contoh aksesorisnya adalah mengenakan gelang tangan, gelang kaki, ikat pada lengan, kalung, menyengkelit keris, dan tentu saja mengenakan mahkota yang acap disebut “kupluk Panji.

Pagelaran tari jathilan dimulai dengan tari-tarian. Para penari akan kerasukan roh halus sehingga hampir tidak sadar dengan apa yang mereka lakukan. Di saat para penari bergerak mengikuti irama musik dari jenis alat musik jenis alat gamelan seperti saron, kendang, dan gong ini, terdapat pemain lain yang mengawasi dengan memegang pecut atau cemeti. Pada zaman dahulu, jathilan merupakan sebuah tarian ritual untuk memanggil roh kuda dan meminta keamanan desa serta keberhasilan panen. Dalam filosofi Jawa, kuda melambangkan kekuatan, kepatuhan dan sikap pelayanan dari kelas pekerja. Inilah yang menginspirasi seluruh pertunjukan jathilan yang menempatkan penari kuda-kudaan sebagai pusat perhatian. Penari ini seringkali melakukan atraksi-atraksi berbahaya yang tidak boleh ditiru, yakni memakan benda-benda tajam seperti silet, pecahan kaca atau lampu seperti tanpa merasakan kesakitan. Bahkan ketika mereka dicemeti atau dicambuk pun tidak merasakan sakit dan tidak terlihat memar atau tergores seperti pada umumnya orang yang dicambuk langsung pada kulit yang terbuka.
Sebagai tanda bahwa kesenian ini berasal dan berkembang dari masyarakat kelas bawah adalah adanya kesan minimal dalam kelompok musik pengiringnya. Jika diperhatikan dengan teliti, bunyi yang dihasilkan terasa datar dan monoton. Memang ini bukan tanpa maksud, namun ingin melambangkan keseharian kaum pekerja kelas bawah yang penuh dengan rutinitas. Selain itu juga untuk meningkatkan kesan magis yang kental. Pada akhir pertunjukan, alunan gamelan akan kembali pada tempo semula yang kemudian pria bercemeti memainkan fungsinya sebagai penyembuh. Para penari kuda yang kesurupan akan didekap, dibacakan mantra dan disembur dengan air. Si penari kemudian sadar kembali seolah tidak tahu kegilaan apa yang mereka lakukan sebelumnya.