Kesehatan Dan Budaya
Saturday, May 14, 2016
Monday, May 2, 2016
SENI "JATHILAN" TARIAN YANG BERASAL DARI JAWA TENGAH
SENI "JATHILAN" TARIAN YANG
BERASAL DARI JAWA TENGAH
Jathilan adalah kesenian yang telah lama dikenal oleh masyarakat Yogyakarta dan juga sebagian Jawa Tengah. Jathilan juga dikenal dengan
nama kuda lumping, kuda kepang, ataupun jaran kepang.
Tersemat kata “kuda” karena kesenian yang merupakan perpaduan
antara seni tari dengan magis ini dimainkan dengan menggunakan properti berupa
kuda-kudaan yang terbuat dari anyaman bambu (kepang).
Dilihat dari asal katanya, jathilan berasal dari kalimat
berbahasa Jawa “jaranne jan thil-thilan tenan,” yang jika
dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “kudanya
benar-benar joget tak beraturan.” Joget
beraturan (thil-thilan) ini memang bisa dilihat pada kesenian jathulan
utamanya ketika para penari telah kerasukan.
Dilihat dari asal katanya, jathilan berasal dari kalimat
berbahasa Jawa “jaranne jan thil-thilan tenan,” yang jika
dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “kudanya
benar-benar joget tak beraturan.” Joget
beraturan (thil-thilan) ini memang bisa dilihat pada kesenian jathulan
utamanya ketika para penari telah kerasukan.
- Gerak Tari Jathilan
Pada mulanya penari nampak lemah gemulai dalam menggerakkan
badan, namun seiring waktu berjalan, para penari menjadi kerasukan roh halus,
dimana kondisi kerasukan ini dalam bahasa Jawa sering dikatakan istilah “ndadi”
atau dalam bahasa Inggrisnya ‘trance’
.
Karena kerasukan, maka para penari jatilan hampir tidak sadar terhadap apa yang
diperbuatnya. Gerakan tariannyapun mulai tak teratur, pada
kondisi inilah kata jathilan itu tergambar, jaranne jan thil-thilan tenan
(kudanya benar-benar berjoget tak beraturan).
Keberadaan pawang
Dalam satu pertunjukan, kecuali para penari yang memiki
jumlah tertentu tergantung cerita yang hendak disampaikan, maka ada instrumen
pertunjukan lainnya, yaitu para penabuh gamelan, para perias, dan yang tak
boleh ketinggalan adalah keberadaan “pawang,” yaitu sosok
yang memiliki peran serta tanggungjawab mengendalikan jalannya pertunjukan dan
menyembuhkan para penari yang kerasukan.
Tatkala “ndadi” alias kerasukan, para penari jathilan mampu
melakukan gerakan pun atraksi berbahaya yang tidak dapat dicerna oleh akal
manusia, sebagai contoh adalah memakan dedaunan, menyantap kembang, bahkan juga
mengunyah beling (pecahan kaca).
Adakalanya juga berperang menggunakan pedang dan lalu menyayat lengan, atraksi
ini sejatinya bukan ajang pamer kedigdayaan melainkan sebagai gembaran bahwa
nonmiliter juga memiliki kekuatan guna melawan pasukan Belanda.
Cerita dan penampilan
Jatilan
Sesuai perkembangan jaman, sejatinya ada banyak cerita yang
dikembangkan dan sering ditampilkan pada pertunjukan seni tari jathilan pun
jaran kepang ini. Jika di atas tadi ada gambaran cerita
tentang Diponegoro, maka ada pula cerita tentang Panji Asmarabangun,
yaitu putra dari kerajaan Jenggala Manik.
Tatkala yang disampaikan adalah cerita mengenai Panji Asmarabangun, maka
penampilan para penaripun menggambarkan tokoh tersebut, baik aksesoris pun
gerakannya. Sebagai contoh aksesorisnya adalah mengenakan gelang
tangan, gelang kaki, ikat pada lengan, kalung, menyengkelit keris, dan tentu
saja mengenakan mahkota yang acap disebut “kupluk Panji.”
Kreasi Lama dan Kreasi
Baru
Dewasa ini kesenian jathilan telah berkembang dan dikemas
dengan sisi berbeda, hal ini dilakukan agar tetap memiliki daya tarik bagi
generasi muda yang telah mengenal tradisi modern. Ada
dua pakem di tampilkan, yaitu pakem lama yang acap dinamakan sebagai “jathilan
pung jrol” dan pakem baru yang lebih dikenal dengan sebutan “jathilan
kreasi baru.”
- Jathilan Pungjrol
Pung jrol merupakan pakem jathilan lama yang juga dinamakan
sebagai pakem ‘klasik.’ Ini merupakan jathilan
yang telah lebih awal ada, yaitu sejak kemunculannya pertama kali.
Pungjrol merupakan jathilan yang sederhana, baik pada sisi penampilan ataupun
sisi pengiring gamelannya.
Karena kesederhanaan tersebut, memang pada awalnya yang
tercipta adalah bebunyian yang jika dilapalkan akan bersuara “kil kil kol
kol kil kil jrol! kil kil kol kol kil kil jrol!,” namun
pada saat kondisi “ndadi” otomatis irama itu makin kencang, sehingga ayang kan
lebih dominan terdengar adalah suara kenong serta gong.
Sementara gamelan lain lebih menjadi suara latar saja, maka yang terdengar
adalah bunyi “pung jrol pung pung jrol pung dhel!”
Suara inilah yang pada akhirnya lebih akrab dan dikenal masyarakat sebagai nama
jathilan “pung jrol.”
- Jathilan kreasi baru
Perkembangan jaman menuntut untuk kita lebih kreatif,
karenanya kreasi dan inovasi seolah diwajibkan apabila kita tetap bisa survive
dalam melakukan gerakan. Begitu
pula pada pengembangan seni jathilan ini, agar tak begitu asing bagi anak-anak
jaman sekarang yang telah menikmati jaman maju, maka dikembangkanlah jathilan
dengan sentuhan kreasi baru.
Yang menjadi pembeda dari jatilan kreasi berbanding jathilan
klasik adalah pada gamelan sebagai musik pengirim dan juga pada penampilan,
baik pemain tambahan, pakaian ataupun
aksesorisnya. Sebagai contoh adalah
terdapatnya tambahan gamelan dengan drum ataupun alat musik lain yang
menggabungkan antara pentatonis dengan diatonis. Sedangkan pada sisi
penampilan, seni tari jathilan ‘kreasi baru’
adakalanya menampilkan peran “celeng” (babi), “munyuk” (monyet), dan beberapa
penari topeng. Bahkan ada juga jathilan gedruk, yaitu jathilan yang
beberapa penarinya mengenakan aksesoris klinthing di kakinya sehingga
menimbulkan suara bergemerincing secara kompak.
Pelaku Seni Jathilan
Pelaku seni tari kuda lumping tak sebatas pada jenis kelamin
laki-laki saja,melainkan ada pula perempuannya, keduanya tetap tak bisa lepas
dari kejadian ‘ndadi’ a.k.a trance.
Ini memberikan pesan bahwa jathilan selain merupakan hiburan rakyat juga mampu
menyertakan unsur ritual. Contoh realnya adalah ketika seorang pawang
jathilan melakukan suatu ritual yang intinya memohon ijin kepada Tuhan agar
jalannya pertunjukan lancar, serta mengucapkan “permisi” kepada makhluk lain
yang berada diseputaran tempat tersebut agar tidak menggangu jalannya
pertunjukan.
SEJARAH JATILAN
Kesenian
tari jathilan dahulu kala sering dipentaskan pada dusun-dusun kecil.
Pementasan ini memiliki dua tujuan, yang pertama yaitu sebagai sarana menghibur
rakyat sekitar, dan yang kedua juga dimanfaatkan sebagai media guna
membangkitkan semangat rakyat dalam melawan penjajah.
Ada
beberapa cerita awal sejarah mengenai jatilan. Versi pertama menceritakan
jatilan adalah kesenian yang mengisahkan perjuangan Raden Patah dibantu Sunan
Kalijaga dalam melawan penjajahan Belanda. Sebagaimana yang kita ketahui,
Sunan Kalijaga adalah sosok yang acap menggunakan budaya, tradisi dan kesenian
sebagai sarana pendekatan kepada rakyat, maka cerita perjuangan dari Raden
Patah itu digambarkan kedalam bentuk seni tari jathilan.
Versi
terahkir adalah jatilan merupakan cerita Panji Asmarabangun, yaitu
putra dari kerajaan Jenggala Manik. Tatkala yang disampaikan
adalah cerita mengenai Panji Asmarabangun, maka penampilan para penaripun
menggambarkan tokoh tersebut, baik aksesoris pun gerakannya.
Sebagai contoh aksesorisnya adalah mengenakan gelang tangan, gelang kaki, ikat
pada lengan, kalung, menyengkelit keris, dan tentu saja mengenakan mahkota yang
acap disebut “kupluk Panji.
Pagelaran tari jathilan
dimulai dengan tari-tarian. Para penari akan kerasukan roh halus sehingga
hampir tidak sadar dengan apa yang mereka lakukan. Di saat para penari bergerak
mengikuti irama musik dari jenis alat musik jenis alat gamelan seperti saron,
kendang, dan gong ini, terdapat pemain lain yang mengawasi dengan memegang
pecut atau cemeti. Pada zaman dahulu, jathilan merupakan sebuah tarian ritual
untuk memanggil roh kuda dan meminta keamanan desa serta keberhasilan panen.
Dalam filosofi Jawa, kuda melambangkan kekuatan, kepatuhan dan sikap pelayanan
dari kelas pekerja. Inilah yang menginspirasi seluruh pertunjukan jathilan yang
menempatkan penari kuda-kudaan sebagai pusat perhatian. Penari ini seringkali
melakukan atraksi-atraksi berbahaya yang tidak boleh ditiru, yakni memakan
benda-benda tajam seperti silet, pecahan kaca atau lampu seperti tanpa
merasakan kesakitan. Bahkan ketika mereka dicemeti atau dicambuk pun tidak
merasakan sakit dan tidak terlihat memar atau tergores seperti pada umumnya
orang yang dicambuk langsung pada kulit yang terbuka.
Sebagai tanda bahwa
kesenian ini berasal dan berkembang dari masyarakat kelas bawah adalah adanya
kesan minimal dalam kelompok musik pengiringnya. Jika diperhatikan dengan
teliti, bunyi yang dihasilkan terasa datar dan monoton. Memang ini bukan tanpa
maksud, namun ingin melambangkan keseharian kaum pekerja kelas bawah yang penuh
dengan rutinitas. Selain itu juga untuk meningkatkan kesan magis yang kental.
Pada akhir pertunjukan, alunan gamelan akan kembali pada tempo semula yang
kemudian pria bercemeti memainkan fungsinya sebagai penyembuh. Para penari kuda
yang kesurupan akan didekap, dibacakan mantra dan disembur dengan air. Si
penari kemudian sadar kembali seolah tidak tahu kegilaan apa yang mereka
lakukan sebelumnya.
Subscribe to:
Comments (Atom)

